Rabu, 01 Agustus 2012

Asuhan Keperawatan Pada Cystitis


DEFINISI

Cystitis merupakan peradangan pada kandung kemih (Medical Surgical Nursing, 2044)
Cystitis adalah keadaan klinis akibat berkembang biaknya mikroorganisme yang menyebabkan inflamasi pada kandung kemih.
Cystitis dibedakan menjadi dua, yaitu :
· Tipe infeksi
Disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit
· Tipe non infeksi
Disebabkan oleh bahan kimia, radiasi, dan interstisial (tidak diketahui penyebabnya / ideopatik)
B. ETIOLOGI
Infeksi pada cystitis disebabkan oleh :
Ø Bakteri
Kebanyakan berasal dari bakteri Escherichia coly yang secara normal terletak pada gastrointestinal. Pada beberapa kasus infeksi yang berasal dari uretra dapat menuju ginjal.
Bakteri lain yang bisa menyebabkan infeksi adalah Enterococcus, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, dan Staphylococcus
Ø Jamur
Infeksi jamur, penyebabnya misalnya Candida
Ø Virus dan parasit
Infeksi yang disebabkan olehvirus dan parasit jarang terjadi. Contohnya : Trichomonas, parasit ini terdapat dalam vagina, juga dapat berada dalam urine
Etiologi cystitis yang non infeksi biasanya terjadi karena :
Ø Paparan bahan kimia, contohnya obat – obatan (misalnya, Cyclophosphamide (Cytotaxan, Procycox)
Ø Radio terapi
Ø Reaksi imunologi, biasanya pada pasien SLE (Systemic Lupus Erytematous)
Penyabab lain dari cystitis belum dapat diketahui. Tapi ada penelitian yang menyatakan bahwa cystitis bisa disebabkan tidak berfungsinya epitel kandung kemih untuk menyimpan urine yang menyebabkan adanya kebocoran pada lapisan dalam kandung kemih.
C. INSIDEN
Cystitis kebanyakan terjadi pad wanita usia lanjut dengan angka kejadian 0,2 % tiapa bualan. Setiap wanita mempunyai resiko sebesar 50 % untuk terserang cystitis. Pada laki – laki usia lanjut, resiko terjadinya cystitis <>
Ø Bayi premature
Ø Wanita usia subur
Ø Wanita yang menggunakan kontrasepsi yang berupa IUD atau spermasida
Ø Diabetes
Ø HIV
Ø Penurunan obstruksi saluran kencing
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Disuria
2. Rasa panas seperti terbakar saat kencing
3. Ada nyeri pada tulang punggung bagian bawah
4. Urgensi (rasa terdesak saat kencing)
5. Nocturia (cenderung sering kencing pada malam hari akibat penurunan kapasitas kandung kemih)
6. Pengosongan kanding kemih yang tidak sempurna
7. Inkontininsia
8. Retensi
9. Nyeri suprapubik
E. PATOFISIOLOGI
Agen infeksi kebanyakan disebabkan oleh bakteri E. coly. Tipikal ini berada pada saluran kencing dari uretra luar sampai ke ginjal melalui penyebaran hematogen, lymphogen dan eksogen. Tiga factor yang mempengaruhi terjadnya infeksi adalah :
1. Virulensi dari organisme
2. Ukuran dari jumlah mikroorganisme yang masuk dalam tubuh
3. Keadekuatan dari mekanisme pertahanan tubuh
Terlalu banyaknya bakteri yang menyebabkan infeksi dapat mempengaruhi pertahanan tubuh alami klien.
Mekanisme pertahanan tubuh merupakan penentu terjadinya infeksi, normalnya urine dan bakteri tidak dapat menembus dinding mukosa bladder. Lapisan mukosa bladder tersusun dari sel – sel urotenial yang memproduksi mucin yaitu unsure yang membantu mempertahankan integritas lapisan bladder dan mencegah kerusakan serta inflamasi bladder. Mucin juga mencegah bakteri melekat pada sel urotelial.
Selain itu pH urine yang asam dan penurunan / kenaikan cairan dari konstribusi urine dalam batas tetap, berfungsi untuk mempertahankan integritas mukosa, beberapa bakteri dapat masuk dan system urine akan mengeluarkannya.
Bentuk anatomi sluran kencing, keduanya mencegah dan merupakan konstribusi yang potensial untuk perkembangan UTI. Urine merupakan produk yang steril, dihasilkan dari ultrafiltrasi darah pada glumerolus dari nepron ginjal, dan dianggap sebagai system tubuh yang steril. Tapi uretra merupakan pintu masuk bagi pathogen yang terkontaminasi. Selain itu pada wanita 1/3 bagian distal uretra disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis banyak dihuni bakteri dari usus karena letak anus tidak jauh dari tempat tersebut. Kolonisasi basi pada wanita di daerah tersebut diduga karena :
Ø Perubahan flora normal dari daerah perineum
Ø Berkurangnya antibody normal
Ø Bertambahnya daya lekat oeganisme pada sel spitel pada wanita
Cystitis lebih banyak pada wanita dari pada laki – laki, hal ini karena uretra wanita lebih pendek dan lebih dekat dengan anus.
Mikroorganisme naik ke bledder pada wktu miksi karena tekanan urine. Dan selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih setelah mengeluarkan urine.

Askep Tetanus

1.1  Latar Belakang
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Kuman C. tetani tersebar luas ditanah, terutama tanah garapan, dan dijumpai pula pada tinja manusia dan hewan. Perawatan luka yang kurang baik di samping penggunaan jarum suntik yang tidak steril (misalnya pada pecandu narkotik).merupakan beberapa faktor yang sering dijumpai sebagai pencetus tirribulnya tetanus. Tetanus dapat menyerang semua golongan umur, mulai dari bayi (tetanus neonatorum), dewasa muda (biasanya pecandu narkotik) sampai orang-orang tua. Dari Program Nasional Surveillance Tetanus di Amerika serikat diketahui rata-rata usia pasien tetanus dewasa berkisar antara 50-57 tahun.
Berdasar tingkat kejadian ( epidemiologi ) tersebut maka kelompok tertarik untuk membahas tentang ASKEP pada tetanus .
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada maka dapat dirumuskan masalah dari makalah ini adalah:
1.2.1        Apakah definisi dari tetanus?
1.2.2        Bagaimana klasifikasi tetanus?
1.2.3        Apakah etiologi dari tetanus?
1.2.4        Bagaimanakah patofisiologi dari tetanus?
1.2.5        Bagaimanakah manifestasi klinis dari klien dengan tetanus?
1.2.6        Bagaimanakah WOC dari tetanus?
1.2.7        Bagaimanakah penatalaksanaan dari tetanus?
1.2.8        Apa saja pemeriksaan penunjang untuk klien dengan tetanus?
1.2.9        Apa saja komplikasi dari tetanus?
1.2.10    Bagaimana proses keperawatan untuk klien dengan tetanus?
1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawatan yang harus diberikan kepada klien dengan tetanus.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.3.2.1  Memahami definisi dari tetanus.
1.3.2.2  Mengetahui klasifikasi dari tetanus.
1.3.2.3  Mengetahui etiologi dari tetanus.
1.3.2.4  Memahami patofisiologi dari tetanus.
1.3.2.5  Mengetahui manifestasi kinis dari klien dengan tetanus.
1.3.2.6  Mengetahui WOC dari tetanus.
1.3.2.7  Mengetahui penatalaksanaan yang harus diberikan pada kien dengan tetanus.
1.3.2.8  Mengetahui pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus.
1.3.2.9  Mengetahui komplikasi dari tetanus.
1.3.2.10 Memahami proses keperawatan pada klien dengan tetanus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman. Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani,yang ditandai dengan gejala kekakuan dan kejang otot.(Ritharwan,2004)
2.2 Klasifikasi
Tetanus berdasarkan bentuk klinis dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Tetanus local: biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menghilang.
  2. Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering, biasanya timbul mendadak dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung daan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat kontraksi otot somatic meluas. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
  3. Tetanus segal: varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti tetanus umum.
Berdasarkan berat gejala dapat dibedakan menjadi 3 stadium, yaitu:
  1. Trismus (3 cm) tanpa kejang torik umum meskipun dirangsang.
  2. Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
  3. Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.

2.3 Etiologi
            Penyakit tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang dapat masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tidak dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril. Penginfeksian kuman Clostridium tetani lebih mudah bila klien belum terimunisasi.

2.4 Patofisiologi
Tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tida dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril yang lebih beresiko bagi orang-orang yang belum terimunisasi.
Toksin kuman C. tetani berbentuk spora.  Bentuk spora dalam suasana anaerob dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Toksin ini menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun mnyeluruh. Bila toksin banyak, selain otot bergaris, otot polos dan saraf otak juga terpengaruh.
2.5 Manifestasi Klinis
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan gejala umum:
  1. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris
  2. Kaku kuduk sampai epistotonus karena ketegangan otot-otot erector trunki
  3. Ketegangan otot dinding perut
  4. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior
  5. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alias tertarik ke atas), sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
  6. Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan (sering merupakan gejala dini)
  7. Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior dala keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Keadaan tetap sadar, spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi, kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramuscular karena kontraksi yang kuat.
  8. Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
  9. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
10.  Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak.

2.7 Penatalaksanaan Tetanus
           Penatalaksanaan pada klien dengan tetanus ada 2 macam yaitu farmakologi dan non-farmakologi.
  1. Farmakologi
    1. Antitoksin: antitoksin 20.000 1u/ 1.M/5 hari. pemberian baru diberikan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
    2. Anti kejang (antikonvulsan)
  • Fenobarbital (luminal): 3 x 100 mg/1.M. Untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6x30 mg/hari (max. 200mg/hari).
  • Klorpromasin: 3x25 mg/1.M/hari. Untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB.
  • Diazepam: 0,5-10 mg/kg BB/1.M/4 jam, dll.
  1. Antibiotic: penizilin procain 1juta 1u/hari atau tetrasifilin 1gr/hari/1.V. Dapat memusnahkan tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.
  2. Non-farmakologi
    1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
    2. Diet TKTP. Pemberian tergantung kemampuan menelan. Bila trismus, diberikan lewat sonde parenteral.
    3. Isolasi pada ruang yang tenang, bebas dari rangsangan luar.
    4. Menjaga jalan nafas agar tetap efisien.
    5. Mengatur cairan dan elektrolit.


2.8  Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus meliputi:
  1. Darah
Glukosa darah: hipoglikemia merupakan predisposisi kejang.

BUN: peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.

Elektrolit (K, Na): ketidakseimbangan elektroit merupakan predisposisi kejang kalium (normal 3,80-5,00 meq/dl).

  1. Skull Ray: untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi.
  2. EEG: teknik untuk menekan aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui focus aktifitas kejang, hasil biasanya normal.


2.9  Komplikasi pada klien Tetanus
  1. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di rongga mulut. Hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.
  2. Asfiksia.
  3. Atelektasis karena obstruksi secret.

BAB III
PROSES KEPERAWATAN
3.1  Pengkajian
  1. Identitas/ biodata klien
Nama                                       : Ny. F
Tempat/tgl lahir                       : Surabaya, 15 September 1954
Umur                                       : 56 tahun
Jenis kelamin               : perempuan
Agama                         : islam
Warga Negara             : Indonesia
Bahasa yang digunakan          : Bahasa Jawa

Penanggung jawab
Nama                           : Tn.H
Alamat                        : Jln. Kertosari no 14 Sby
Hubungan dg klien     : suami
  1. Keluhan utama: kejang
  2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ny. F datang ke rumah sakit dengan keluhan kejang. Keluarga klien mengatakan pasien kejang sejak 2 bulan yang lalu. Kejang dirasakan semakin hebat sejak seminggu terakhir. Berdasarkan keterangan dari keluarga, 3 tahun yang lalu pasien pernah mengalami luka robek di kakinya karena terkena patahan kayu yang tajam.
  1. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Keluarga pasien mengatakan bahwa 3 tahun yang lalu pasien pernah mempunyai luka robek akibat terkena patahan kayu.
  1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita tetanus.
  1. Keadaan Lingkungan
Pasien bertempat tinggal di daerah yang kurang bersih.

3.2  Observasi
  1. Keadaan Umum
Suhu                            : 38oC
Nadi                            : 116 x/menit
Tekanan darah : 120/90 mmHg
RR                               : 26 x/menit
BB                               : 52 kg
TB                               : 160 cm
  1. Review of Sistem (ROS)
B1 (breathing): takipnea, RR= 26 x/menit
B2 (blood): disritmia, febris.
B3 (brain): kelemahan fisik, kelumpuhan salah satu saraf otak.
B4 (bladder): retensi urine (oliguria)
B5 (bowel): konstipasi akibat menurunnya gerak peristaltic usus
B6 (bone): sulit menelan.

Rabu, 13 Januari 2010

Halitosis Definition


.The sores are small superficial lesions (as small ulcers) at the level of the buccal mucosa, are often yellow. The sores are very annoying and cause a burning sensation. There are two types of mouth sores:

> Milestones Afte (very small sores that do not exceed 1 cm in diameter).

> Afte giants (afte exceeding 1cm in diameter).

If afte giants should consult a doctor. By rule, the sores heal spontaneously in one to two weeks afte exception of giants, which can last up to two months before disappearing.
We note also that women are more vulnerable to sores of men.